Situs Budaya Batu Panjang Potensi Wisata di Kawasan Hutan Perhutani

indonesiasatu, 11 Nov 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

CIAMIS - Situs budaya Batu Panjang ditemukan di Hutan Pinus, Blok Jahim, KPH Ciamis, di perbatasan antara Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Ciamis. Lokasinya berada di Petak  7d  RPH Madati BKPH Ciamis , Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis.
Batu Panjang Jahim   Termasuk kabuyutan yang keletakannya berada paling utara Kabupaten Ciamis  karena sekitar 200 meter ke arah utaranya lagi berdiri tapel wates kabupaten Ciamis dan Majalengka. Oleh Karena itu  situs ini sering juga dianggap masuk ke Kabupaten Majalengka. 

Situs Megalitkum Batu Panjang Jahim berada di ketinggian sekitar 1080 mdpl. Lokasinya tepat dipinggir jalan lintas desa yang cukup ramai dilalui kendaraan bermotor karena merupakan jalur alternatif yang menghubungkan kedua kabupaten. Ciri kabuyutannya dapat dilihat dari rimbunan pepohonan hutan yang masih tersisa diantara dominasi pohon-pohon pinus, sehingga mudah untuk mengenalinya. 

Keindahan alam sudah terasa manakala akan memasuki kawasan hutan pinus.  Baik dari arah Majalengka maupun Ciamis panorama luas akan terhampar. Di Sebelah utara, ngemplang  daerah Sawah Lega Cikijing dan sekitarnya, dari arah selatan membentang hamparan pesawahan Sukamantri dan sebagian Panjalu.

Situs Bantu Panjang belum banyak diketahui warga dan belum tersentuh penelitian secara khusus. 
Papan nama keberadaan situs tersebut, menurut kuncen situs Batu Panjang  ki Hasidin (50), baru dipasang belakangan ini oleh Perhutani setelah ada beberapa warga yang penasaran dengan keberadaan situs tersebut.

Untuk menjangkau Batu Panjang mudah, pengunjung bisa berhenti di rest area yang letaknya beberapa meter setelah tugu perbatasan Majalengka - Ciamis. Berjarak beberapa meter dari jalan raya, akan ditemukan batu berukuran panjang sekitar 3 meter dengan diameter 40 cm dan bentuk persegi lima. Di bagian ujungnya sedikit runcing dan tergeletak di tanah. ketika naik ke bagian atas, akan ditemukan batu-batu terserak di sejumlah tempat.

Kronologi Sejarah Situs Batu Panjang
Kronologi sejarah pulau Jawa Barat dari tahun 10.000 SM. Dimulai dari munculnya serangkaian kebudayaan maju seperti Gunung Padang, 9500 SM - Kebudayaan Goa Pawon muncul di Bandung, 7500 SM, Kebudayaan Pangguyangan muncul di Sukabumi, 4000 SM , Tahap kedua kebudayaan Gunung Padang, 3000 SM, Kebudayaan Cibedug muncul di Lebak, 2000 SM - Tahap ketiga kebudayaan Gunung Padang, 1000 SM - Kebudayaan Cipari muncul di Kuningan, 800  SM, Kebudayaan Pasir Angin muncul di Bogor, 500  SM - Cipari ditinggalkan, 400  SM - Gunung Padang ditinggalkan. Kebudayaan Buni muncul di Bekasi. Pasir Angin berkembang menjadi peradaban kuno Caringin Kurung.
Jika bentuk batu-batu di situs Batu Panjang hampir mirip dengan batu-batu di situs Gunung Padang, Cianjur. Usia batuannya diprediksi sama atau jaman setelah kebudayaan Gunung Padang Cianjur. 
Kronologis kewilayahan kebudayaan megaltik tercatat dalam sejarah muncul pada jaman Tarumanagara, yang merupakan wilayah bawahan Kerajaan Tarumanagara pada masa  Raja Purnawarwan. Situs batu Panjang  berada di mandala Purwagaluh.
Keberadaan Situs Batu Panjang sudah dikenal sejak lama dikalangan masyarakat sekitarnya. Luasnya sekitar 500 meter persegi berada di kawasan Pegunungan Madati.  Bagi sebagian masyarakat,  pegunungan ini juga disebut Gunung Bitung karena terkait dengan keberadaan Situs Gunung Bitung yang berjarak beberapa kilometer ke arah timur, yaitu di Desa Wangkelang, Kampung Pawijen, Kecamatan Cingambul, Majalengka. 

Gunung Bitung sudah dikenal sebagai situs sejarah peninggalan masa klasik terkait dengan Kerajaan Sunda Galuh Kawali.  

Beberapa literatur, terutama Naskah Pustaka Rajya Rajya Bumi Nusantara menyebutkan bahwa  Gunung Bitung merupakan cikal bakal Kerajaan Talaga.

Sedangkan Situs Batu Panjang Jahim keberadaanya belum dikenal luas. apalagi kandungan sejarahnya. Padahal situs ini konon pernah diteliti, namun entah peneliti yang mana dan dari mana, karena sampai saat ini hasilnya belum tersebar dikalangan umum. Maka sampai saat ini, Batu Panjang tetap masih menjadi misteri yang layak untuk terus dikaji dan diteliti.  Secara fisik, apa yang dapat dilihat di kabuyutan ini berupa kumpulan batu andesit berukuran besar dengan bentuk dominan  panjang. Posisinya ada yang berdiri memancang dan rebah melintang, nyaris tak beraturan. Batu-batu panjang inilah yang melatarbelakangi penamaan kabuyutan.
Gugusan bebatuan utama dari situs ini ini berada di cekungan lereng  bukit dengan arah memanjang timur laut – barat daya.  Lebar cekungan itu sekitar 8 meter dan panjangnya menanjak sekitar 30 meter. Ujung bukit yang mengarah ketimur  merupakan bagian  yang menurun, sekaligus sebagai gerbangnya, berhadapan tepat dengan jalan aspal. Sedangkan bagian baratnya merupakan lereng menuju puncak bukit.  

Di jalan masuk situs terdapat sekelompok batu panjang yang bertumpangan. Batu ini disebut masyarakat sebagai Batu Kendang, karena mirip alat musik kendang. Sesungguhnya sebaran batu berukuran panjang dan besar  terlihat cukup banyak di wilayah sekitarnya.  Sepertinya, jika lereng bukit itu dikupas akan tersusun dari bebatuan seperti itu.

Menurut keterangan Pak Shahidin, juru kunci yang sudah bertugas selama 20 tahun, wilayah sakralnya berada di sebelah selatan ditandai dengan kelompok batu yang berciri khusus.  Ciri khusus ini berupa batu yang berdiri tegak setinggi kurang lebih 1,7 meter. Batu ini dikelilingi batu-batu panjang lainnya dengan posisi rebah maupun berdiri dengan posisi lebih rendah. Didekatnya tumbuh Pohon Tanjung, tidak Jauh dari kedua batu itu, terdapat sebuah batu yang juga dikeramatkan karena di dindingnya ada cekung-cekung kecil berjumlah 5 buah yang dianggap masyarakat setempat merupakan jejak kaki maung. Batu Tapak Maung ini tingginya sekitar 80 cm dan berdiameter 50 cm. Bentuknya seperti batang pohon yang terpotong.

Sementara sebaran batu lainnya yang terhampar menurun ke arah timur laut  juga seperti terkondisi membentuk semacam tatanan. Walau terkesan acak-acakan, namun beberapa susunan batu menyiratkan adanya pesan tertentu. Seperti misalnya batu besar yang berdiri tegak di disisi kiri dan kanan Seolah-olah merupakan lawang masuk ke area utama. Terdapat juga batu tegak yang dikelilingi kumpulan batu yang lebih kecil serta batu pasangan yang berdiri miring dan ujungnya saling tertaut membentuk bangun segitiga. Namun menurut saya, beberapa kedudukan batu di atas bukan formasi aslinya. Hanya, bentuk batuan di situs Batu Panjang sedikit berbeda. Jika di Gunung Padang semua batu berukuran sama, berukuran 60 cm dan tebal 20 cm serta bentuknya yang persegi. Di situs Batu Panjang, batuan ada yang berbentuknya persegi lima. Panjang serta besarnya berbeda satu sama lain.

Panjangnya bervariasi mulai dari 60 cm, 80, cm, sampai 270 cm. Ketebalannya juga bervariasi. Ada batuan yang ketebalan ujung bawahnya 40 - 50 cm dengan ujung atas 20 cm. Namun, ada juga yang ketebalan ujung bawahnya 30 cm dan ujung atasnya 20 cm, bergantung panjang dan pendeknya.

Ada pula batu menhir dan dolmen yang oleh masyarakat setempat disebut batu meja. Batu tersebut punya permukaan datar dengan ukuran kira kita 80 x 50 cm.

Situs Batu Panjang, menurut Hasidin, berada di cakupan sekitar 100 meter persegi (Menurut Perhutani 0,100 ha). Namun, tampaknya area cakupannya lebih luas jika hutan disekitar situs tersebut ditelusuri.

Menurut budayawan setempat, Rachmat Iskandar, di wilayah Majalengka, Kawali, dan Panjalu memang banyak ditemukan bekas peninggalan bersjarah.
 

Teori Ketika Magma Membeku & Tradisi Megalitikum

Apa yang terlihat di Situs Batu Panjang Jahim, merupakan ciri penting  tinggalan budaya  dari masa megalitikum (megas berati besar, lithos berarti batu). Dalam tradisi megalitikum,  batu yang digunakan dapat berupa satu batu tunggal (monolit), tumpukan batu besar maupun kecil, atau susunan batu yang diatur dalam bentuk tertentu. Megalit seringkali dipotong atau dipahat terlebih dahulu dan dibuat terkait dengan ritual religius atau upacara-upacara tertentu seperti kematian atau masa tanam.

Beberapa ciri budaya megalitikum diantaranya menhir, dolmen, kubur batu, sarkofagus. Selain itu, batu dakon, batu kenong,waruga, batu lumpang pun termasuk ciri Megalitikum. Tidak semua mesti berciri primer batu saja, struktur ruangpun dapat menjadi ciri jaman mgelaitikum seperti punden berundak misalnya. 

Budaya Megalitikum berkembang antara 2500 - 1500 SM.  Masa yang lebih muda disebut Neolitikum (1000-100 SM) ditandai dengan batu-batu yang sudah mengalami proses penghalusan. Di tatar sunda, punden berundak,  batu lumpang, batu dakon dan menhir termasuk paling banyak ditemukan tersebar di berbagai tempat. Situs Megalitikum terkenal yang jaraknya paling dekat dengan Batu Panjang Jahim adalah Situs Cipari di Kuningan dengan keberadaan peti kubur batunya.

Dari gambaran di atas, maka Kabuyutan Batu Panjang Jahim memenuhi unsur tradisi Megalitik. Adanya Menhir dari  Batu yang masih utuh tegak berdiri, dan mungkin dolmen dari susunan batu yang rebah atau bertumpuk, memberi gambaran bahwa pada jamannya tempat ini merupakan wilayah sakral  terutama pemujaan terhadap Hyang (sembah-hyang) dan unsur lainnya yang berhubungan dengan kesuburan.

Batu-batu yang berserakan di Kabuyutan Batu Panjang Jahim ini mirip atau mungkin sejenis dengan bebatuan yang ada di Situs Gunung Padang Cianjur, Situs Pabahanan Majenang Cilacap dan bebatuan di Situs Lebak Sibedug Pandeglang. Situs-situs tersebut secara umum merupakan struktur ruang punden-berundak yang juga didominasi batu-batu panjang.

Kenapa bebatuan seperti itu berada di Gunung Madati? Dari beberapa sumber lisan, menyebutkan bahwa batu-batu panjang tersebut merupakan reruntuhan bangunan kuno. Bisa saja hal itu benar,  bahwa jaman baheula ada bangunan sederhana yang terbentuk dari tatanan batu sebagai pusat ritual, atau memang kabuyutan ini  adalah punden berundak seperti halnya Gunung Padang dan Lebak Sibedug namun  hancur kemudian. Penyebab kehancurannya bisa disengaja atau terjadi secara alamiah. Karena kemiripannya dengan Batu-batu yang ada di Gunung Padang Cianjur maka kemungkinan besar bebatuan jahim tersebut merupakan batuan andesit berupa stuktur tihang kekar (columnar Joint) yang terbentuk dari proses pendinginan aliran basalt. Pendinginan itu menyebabkan penyusutan, keretakan dan patahan membentuk tihang dengan pola hexagonal. Dari beberapa bentuk yang tidak umum maka tiang-tiang tersebut memiliki 3 hingga 12 sisi. Konon di Indonesia jarang ditemukan dengan bentuk jelas, namun di Situs Pabahanan Cilacap menunjukan sisi-sisi yang jelas. Batuan seperti ini posisinya cenderung berdiri vertikal dan ditemukandi daerah intrusif dangkal atau ektrusif tubuh batuan beku.

Analisa sementara dugaan adanya basalt yang muncul di wilayah Jahim bisa dikaitkan dengan pristiwa meletusnya Gunung Gegerhalang (Gunung Candradimuka) 7000 tahun SM. Gunung ini merupakan priode kedua setelah Gunung Plistosen yang meletus sebelumnya. Dari kaldera di sisi utara Gunung Gegerhalang ini lahirlah Gunung Ciremai yang dikenal saat ini.  (Nang Surya ) 

Sumber Berita; Hutanrimbun.wordpress 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu