wartajabar.co.id, Jakarta – Perjalanan Marc Márquez di ajang MotoGP kembali menjadi sorotan setelah performanya menurun akibat cedera bahu yang ia alami. Kemenangan terakhir sang pebalap Spanyol tercatat pada Grand Prix San Marino di September 2025, sebelum situasi berubah drastis akibat insiden di Indonesia.
Tidak lama setelah meraih hasil positif tersebut, Márquez memastikan gelar juara dunia di Jepang lewat finis posisi kedua. Namun momentum itu tidak berlanjut karena insiden di Sirkuit Mandalika, Indonesia, ketika ia terlibat kontak dengan Marco Bezzecchi yang berujung pada cedera bahu kanan. Cedera ini disebut masih berdampak besar terhadap performanya hingga musim berjalan saat ini.
Performa Menurun Usai Cedera
Sejak kemenangan terakhirnya pada 14 September, Márquez belum lagi mencicipi podium tertinggi. Setelah kecelakaan di Mandalika, ia juga harus melewatkan beberapa seri penutup musim 2025, termasuk balapan di Phillip Island, Sepang, Portimão, hingga Valencia.
Memasuki musim 2026, dominasi balapan justru berganti tangan. Beberapa kemenangan tersebar ke sejumlah pebalap seperti Francesco Bagnaia di Jepang, Fermín Aldeguer di Indonesia, Raúl Fernández di Australia, dan Álex Márquez di Malaysia. Sementara itu, Bezzecchi menjadi salah satu yang paling dominan dengan lima kemenangan tambahan.
Rentetan Tanpa Kemenangan yang Panjang
Dalam periode tersebut, Márquez hanya sempat turun di empat balapan—termasuk Jepang 2025 serta tiga seri awal musim 2026—tanpa mampu meraih kemenangan. Jika dihitung dari Misano, sudah sembilan Grand Prix berlalu tanpa ia naik ke podium tertinggi, menjadikannya salah satu periode paceklik terpanjang dalam kariernya.
Kondisi ini mengingatkan pada masa sulit sebelumnya. Pada 2020, ia mengalami cedera lengan serius di Jerez yang membuatnya harus menjalani operasi dan absen panjang hingga 21 balapan tanpa kemenangan sebelum kembali juara di Jerman 2021.
Periode lebih berat terjadi antara 2021 hingga 2024, ketika ia melewati 53 Grand Prix tanpa kemenangan akibat rangkaian cedera dan operasi lanjutan.
Perpindahan ke Ducati dan Tantangan Baru
Demi menyelamatkan kariernya, Márquez memutuskan mengakhiri kerja sama lebih cepat dengan Honda dan bergabung bersama Gresini pada 2024 untuk mengendarai motor Ducati. Adaptasi tersebut tidak instan—ia baru bisa meraih kemenangan setelah 11 balapan, tepatnya di Aragon.
Meski begitu, tren tanpa kemenangan kembali terjadi. Dengan sembilan balapan tanpa kemenangan saat ini, ia mencatatkan salah satu periode sulit terpanjang sejak bergabung dengan Ducati.
Rekor, Konsistensi, dan Target 100 Kemenangan
Sebelum cedera besar pada 2020, Márquez dikenal sebagai pebalap yang sangat konsisten. Sejak debut MotoGP 2013 hingga 2019, ia meraih enam gelar dunia tanpa mengalami paceklik panjang seperti saat ini. Rekor terburuknya kala itu hanya enam balapan tanpa kemenangan pada 2015.
Kemenangan di Misano sebelumnya menjadi yang ke-73 di MotoGP dan ke-99 sepanjang kariernya di semua kelas. Artinya, kemenangan ke-100 yang sudah lama dinantikan masih tertunda.
Kesempatan untuk mengakhiri penantian itu masih terbuka di Grand Prix Spanyol. Namun, tantangannya tidak ringan: kondisi bahu yang belum sepenuhnya pulih, persaingan ketat dari Ducati yang belum stabil, serta ancaman dari nama-nama seperti Bezzecchi dan Jorge Martín di barisan depan.
Catatan di Sirkuit Jerez
Sirkuit Jerez juga bukan lintasan yang paling bersahabat bagi Márquez. Sejak awal kariernya pada 2008, ia hanya mampu menang tiga kali di sana, yaitu pada 2014, 2018, dan 2019.
Bahkan pada musim lalu saat tampil bersama Ducati pabrikan, ia kembali gagal menang di Jerez. Justru kemenangan kala itu direbut oleh Álex Márquez, adiknya sendiri, yang meraih kemenangan bersejarah di kelas utama.






