wartajabar.co.id, Jakarta – Berita F1: Menjadi pembalap kedua di tim Red Bull seharusnya membuka peluang besar bagi siapa pun untuk bersinar di panggung Formula 1. Namun, pengalaman tujuh tahun terakhir membuktikan bahwa posisi ini kerap berubah menjadi tantangan berat bagi banyak pembalap.
Sejumlah pembalap, baik yang berpengalaman maupun yang masih muda, telah mencoba bersaing dengan Max Verstappen, namun belum ada yang mampu menyamai konsistensinya.
Jejak Rekan Setim Verstappen
Perjalanan ini dimulai dengan Daniel Ricciardo, yang pada masanya mampu menandingi Verstappen. Ricciardo, yang datang sebagai talenta muda, sempat beradaptasi dengan Sebastian Vettel dan kemudian memanfaatkan kelemahan Mercedes pada 2014. Hasilnya, ia meraih tiga kemenangan dan finis ketiga di klasemen di belakang Lewis Hamilton dan Nico Rosberg.
Setelah Vettel pergi, Daniil Kvyat sempat menjadi rekan setim Ricciardo. Namun pada 2016, Kvyat diturunkan ke Toro Rosso untuk memberi tempat bagi Verstappen yang baru berusia 18 tahun dan langsung meraih kemenangan debut bersama Red Bull. Meskipun Verstappen menunjukkan performa yang mengesankan, Ricciardo tetap lebih konsisten pada 2016 dan 2017.
Namun, keseimbangan mulai bergeser pada 2018. Dengan satu kemenangan dan empat podium dalam lima balapan terakhir, Verstappen mulai mendominasi rekan setimnya. Ketegangan pun muncul, dan Ricciardo memilih pindah ke Renault, membuka pencarian panjang Red Bull untuk menemukan pembalap pendamping yang tepat bagi Verstappen.
Upaya Red Bull Mencari Mitra yang Tepat
Pierre Gasly dan Alexander Albon mengalami kesulitan memenuhi ekspektasi tim. Sergio Perez, dengan pengalaman lebih, menunjukkan performa lebih baik pada 2022–2023, tetapi tetap belum bisa menyamai Verstappen. Pada 2024, Perez meninggalkan Red Bull, dan Liam Lawson mendapat kesempatan, namun hanya bertahan dua akhir pekan sebelum kembali ke Red Bull Junior Team. Yuki Tsunoda juga tidak mampu bersaing, finis ke-17 di klasemen 2025, hampir membuat Verstappen kehilangan gelar kelimanya dengan selisih dua poin.
Pada musim 2026, Red Bull memberikan kesempatan kepada Isack Hadjar untuk mengisi kursi yang dianggap paling menantang di tim.
Awal Karier Hadjar yang Menjanjikan
Hadjar melewatkan Grand Prix Australia, sementara Verstappen mundur di GP China, sehingga belum ada perbandingan langsung. Namun, tanda awal cukup positif. Sesi kualifikasi GP China menjadi satu-satunya kesempatan perbandingan yang jelas, di mana Hadjar hanya +0,119 detik lebih lambat dari Verstappen, masing-masing menempati posisi kesembilan dan kedelapan.
Defisit ini jauh lebih kecil dibandingkan yang dicatat oleh Ricciardo, Gasly, Albon, Perez, Lawson, maupun Tsunoda. Hasil ini memberi sinyal bahwa Hadjar mampu berada dekat dengan Verstappen, baik dalam kualifikasi maupun balapan, sebuah hal yang telah lama dicari Red Bull.
Tantangan Musim Ini
Meski demikian, performa sebenarnya masih menjadi pertanyaan. Di GP China, kedua Red Bull bersaing dengan Haas dan Alpine di tengah-tengah grid, bukan di barisan depan. Sejumlah pertanyaan pun muncul: apakah Red Bull bisa kembali menembus barisan depan seperti saat GP Australia? Bisakah Verstappen kembali bersaing untuk kemenangan? Dan apakah Hadjar mampu mempertahankan level ini ketika mobil lebih kompetitif?
Jika jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini positif, Red Bull bisa saja menemukan pasangan pembalap yang stabil dan efektif bersama Verstappen—sesuatu yang dicari tim selama hampir satu dekade.






