wartajabar.co.id, Jakarta – Bintang NBA Nikola Jokic kembali menjadi sorotan berkat pencapaian statistik yang dianggap sangat langka dalam sejarah liga. Performa pemain asal Serbia itu dinilai berada di level yang hampir tidak bisa ditandingi, terutama karena ia mampu mendominasi dua kategori penting sekaligus, yaitu rebound dan assist dalam satu musim yang sama.
Dalam sebuah pembahasan di siniar “No Fouls Given”, legenda NBA Paul Pierce menyampaikan pandangannya mengenai betapa luar biasanya musim yang sedang dijalani Jokic. Ia bahkan mengaku terkejut ketika melihat Jokic sempat tidak menjadi kandidat terkuat dalam persaingan MVP NBA 2026, meskipun statistiknya sangat dominan.
Menurut Pierce, Jokic mencatat rata-rata sekitar 12,9 rebound dan 10,9 assist per pertandingan, angka yang menempatkannya di puncak liga untuk dua kategori tersebut. Selain itu, ia juga menyumbang 27,8 poin per laga, yang membuatnya tetap konsisten sebagai salah satu pencetak angka paling produktif di NBA musim ini.
Pierce menilai bahwa kombinasi memimpin liga dalam rebound sekaligus assist dalam satu musim merupakan pencapaian yang jauh lebih sulit dibandingkan mencetak 100 poin dalam satu pertandingan tunggal. Ia menegaskan bahwa rekor seperti itu mencerminkan dominasi menyeluruh seorang pemain terhadap permainan, bukan hanya ledakan performa sesaat.
Dalam sejarah NBA, hanya sedikit pemain yang mendekati level serupa. Nama Russell Westbrook sering disebut sebagai pembanding terdekat, karena ia beberapa kali mencatat rata-rata triple-double dalam satu musim dan pernah menjadi pemimpin liga dalam assist. Namun, Westbrook tidak pernah sekaligus menjadi pemuncak rebound dan assist di musim yang sama, sesuatu yang membuat pencapaian Jokic semakin istimewa.
Pierce juga menyinggung beberapa rekor skor individu sebagai pembanding tingkat kesulitan. Ia menyebut momen ketika Bam Adebayo mencetak 83 poin dalam satu pertandingan Miami Heat melawan Washington Wizards sebagai contoh performa luar biasa. Namun, rekor poin tertinggi sepanjang sejarah NBA masih dipegang oleh Wilt Chamberlain dengan 100 poin pada 1962, disusul oleh Kobe Bryant yang mencetak 81 poin pada 2006.
Meski demikian, Pierce menegaskan bahwa menurutnya lebih mudah melihat seseorang mencetak 100 poin dalam satu malam dibandingkan menemukan pemain yang bisa memimpin liga dalam dua kategori utama seperti rebound dan assist sekaligus dalam satu musim penuh. Ia menekankan bahwa perbedaan kontribusi tersebut menunjukkan betapa uniknya peran seorang pemain seperti Jokic.
Pernyataan Pierce tersebut juga tidak dimaksudkan untuk merendahkan kandidat MVP lain seperti Shai Gilgeous-Alexander, yang tetap tampil impresif dengan rata-rata poin mencapai 33,2 per pertandingan. Namun, ia menilai bahwa dominasi statistik Jokic seharusnya mendapat apresiasi yang lebih besar dalam diskusi penghargaan individu musim ini.
Di sisi lain, persaingan MVP NBA 2026 semakin ketat setelah Victor Wembanyama naik ke posisi teratas dalam pembaruan terbaru, menggeser beberapa kandidat lain, termasuk Gilgeous-Alexander. Kondisi ini membuat persaingan menuju akhir musim semakin menarik untuk diikuti.
Selain pencapaian individu, Jokic juga membawa dampak besar bagi timnya. Ia baru saja memimpin Denver Nuggets mencatatkan 10 kemenangan beruntun, sebuah pencapaian yang menjadi yang pertama dalam 13 tahun terakhir bagi franchise tersebut. Dengan rekor 52-28, Nuggets kini berada di posisi ketiga Wilayah Barat dan terus menjaga peluang untuk finis di papan atas klasemen menjelang akhir musim reguler.
Dengan kombinasi performa individu yang dominan dan kontribusi besar terhadap kesuksesan tim, Jokic kembali memperkuat reputasinya sebagai salah satu pemain paling komplet dalam sejarah NBA modern.






