wartajabar.co.id, Jakarta – Pemain guard Indiana Fever, Sophie Cunningham, menyampaikan rasa terima kasihnya setelah resmi kembali memperkuat tim melalui kontrak berdurasi satu tahun senilai 665.000 dolar AS. Ia juga memberikan klarifikasi terkait pernyataannya yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Pebasket yang telah menjalani delapan musim di liga tersebut sebelumnya menjadi perhatian publik setelah potongan podcast miliknya beredar luas. Dalam rekaman itu, ia terdengar mengungkapkan kekecewaan karena tidak memperoleh kontrak jangka panjang dari tim.
Namun Cunningham menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan bentuk keluhan. Ia menyebut ucapannya lebih mencerminkan keinginannya untuk bertahan lebih lama bersama Fever, bukan karena faktor finansial.
“Saya mungkin terdengar tidak bersyukur, padahal bukan itu maksud saya. Saya sangat menghargai kesempatan ini. Bagi saya, ini bukan soal uang, tetapi tentang lamanya kontrak karena saya ingin tetap bersama tim ini,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa pernyataan tersebut muncul dalam konteks situasi pasca cedera yang dialaminya musim lalu. Cunningham sempat mengalami cedera serius berupa robekan ligamen MCL yang membuatnya harus mengakhiri musim lebih cepat. Kondisi itu, menurutnya, wajar menjadi pertimbangan klub dalam menentukan durasi kontrak.
Kini, ia memastikan kondisinya sudah kembali prima. Cunningham mengaku telah mendapatkan izin bermain sejak Februari dan merasa siap tampil maksimal di musim baru.
Pada musim pertamanya bersama Fever, pemain yang mendekati usia 30 tahun itu mencatat rata-rata 8,6 poin dan 3,5 rebound per pertandingan. Ia juga tampil impresif dalam tembakan jarak jauh dengan persentase keberhasilan mencapai 43,2 persen.
Menariknya, Cunningham mengungkapkan bahwa dirinya sempat menerima tawaran kontrak jangka panjang dari tim lain. Meski begitu, ia memilih tetap bertahan di Indiana karena merasa cocok dengan suasana tim serta hubungan yang terjalin antar pemain.
“Saya ingin memiliki tempat yang bisa disebut rumah dan membangun sesuatu yang berarti. Saya merasa itu bisa terwujud di Indiana. Kebersamaan kami, baik di dalam maupun di luar lapangan, sangat kuat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa rekan setimnya memahami maksud sebenarnya dari pernyataannya, dan menilai reaksi di media sosial hanya memperbesar situasi yang ada.
Cunningham bersama Kelsey Mitchell turut mengungkapkan bahwa selama masa free agency, para pemain inti tetap menjaga komunikasi untuk mempertahankan kekompakan tim. Hal ini menjadi salah satu alasan utama dirinya kembali memperkuat Fever.
Di musim sebelumnya, Indiana Fever tampil cukup kompetitif dengan menembus babak semifinal playoff, meskipun harus kehilangan beberapa pemain penting akibat cedera, termasuk Caitlin Clark dan Cunningham sendiri.
Pelatih kepala Stephanie White menilai kondisi tersebut sebagai bagian dari dinamika dalam dunia profesional. Ia memahami bahwa pemain menginginkan kepastian masa depan, sementara klub juga harus mempertimbangkan berbagai aspek dalam pengambilan keputusan.
“Setiap orang tentu menginginkan stabilitas dalam kariernya. Pemain juga manusia yang memiliki harapan dan perasaan,” ungkap White.
Dengan skuad yang relatif masih terjaga, Indiana Fever optimistis mampu melanjutkan performa positif mereka dan bersaing lebih kuat pada musim 2026.






