wartajabar.co.id, Jakarta — Pelatih US Lecce, Eusebio Di Francesco, menilai kegagalan timnya dalam memaksimalkan peluang menjadi gambaran utama perjalanan mereka sepanjang musim ini. Meski begitu, ia tetap optimistis dan meminta para pemain untuk mengumpulkan energi positif setelah hasil imbang 1-1 melawan Fiorentina dalam lanjutan Serie A.
Pertandingan tersebut menjadi sangat penting bagi Lecce yang tengah berjuang keluar dari zona degradasi. Sehari sebelumnya, pesaing langsung mereka, Cremonese, juga hanya meraih satu poin setelah bermain imbang tanpa gol melawan Torino. Hasil tersebut membuat persaingan semakin ketat dan posisi Lecce belum beranjak dari zona merah klasemen.
Strategi Rotasi untuk Menghadapi Fiorentina
Dalam laga tersebut, Di Francesco mengambil keputusan cukup berani dengan tidak langsung menurunkan beberapa pemain andalannya sejak awal pertandingan. Keputusan ini diduga berkaitan dengan kondisi Fiorentina yang baru saja menjalani laga berat di ajang Liga Konferensi Eropa melawan Crystal Palace.
Pelatih Lecce tampaknya ingin memanfaatkan kondisi fisik lawan yang menurun, sekaligus menyimpan tenaga pemain utamanya agar bisa memberikan dampak maksimal di fase akhir pertandingan. Strategi tersebut bertujuan agar Lecce mampu tampil lebih agresif dalam 30 hingga 35 menit terakhir.
Namun rencana tersebut sempat terganggu ketika Fiorentina berhasil mencetak gol pembuka menjelang akhir babak pertama. Jack Harrison membawa tim tamu unggul dan membuat Lecce harus bekerja lebih keras untuk mengejar ketertinggalan.
Lecce Bangkit di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, Lecce menunjukkan perubahan permainan yang cukup signifikan. Mereka tampil lebih menekan dan berusaha memanfaatkan peluang dari bola mati maupun serangan terbuka.
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Tiago Gabriel berhasil mencetak gol penyama kedudukan melalui sundulan dari situasi sepak pojok. Gol tersebut menjadi gol pertama Lecce setelah lebih dari tiga setengah pertandingan Serie A tanpa mencetak gol, sekaligus memberi harapan bagi tim untuk meraih kemenangan.
Di Francesco menilai performa timnya sebenarnya cukup baik sepanjang pertandingan. Ia menegaskan bahwa timnya mampu mengendalikan permainan, khususnya di babak kedua.
“Kami bermain cukup baik sebelum mereka mencetak gol. Di babak kedua kami bahkan mampu menekan mereka selama lebih dari 30 menit,” ungkap Di Francesco.
Beberapa peluang emas sempat tercipta melalui aksi Pierotti, Coulibaly, dan Stulic, namun penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat Lecce gagal membalikkan keadaan.
Produktivitas Gol Jadi Masalah Utama
Hasil imbang tersebut membuat Lecce dan Cremonese sama-sama mengoleksi 28 poin. Sementara itu, Cagliari berada sedikit lebih aman dengan 33 poin, sedangkan Fiorentina menempati posisi lebih tinggi dengan 36 poin.
Minimnya produktivitas gol menjadi persoalan besar bagi Lecce musim ini. Dari 33 pertandingan yang telah dijalani, mereka hanya mampu mencetak 22 gol. Catatan tersebut menjadi salah satu yang terendah di kompetisi dan menjadi faktor utama mengapa mereka kesulitan keluar dari zona degradasi.
Di Francesco menyadari persoalan ini dan menegaskan bahwa timnya harus meningkatkan kualitas serangan. Ia mengaku cukup puas dengan jumlah umpan silang dan umpan tarik yang berhasil diciptakan, meskipun belum mampu dikonversi menjadi gol.
“Gandelman tampil sebagai penyerang tambahan dan memberikan keseimbangan dalam permainan kami. Kami mencoba menciptakan peluang melalui organisasi permainan yang lebih terstruktur, meskipun hari ini kami juga mengirim banyak bola ke kotak penalti,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kualitas teknis dalam menyerang ruang kosong menjadi fokus utama tim dalam beberapa pekan ke depan.
“Saya akan terus menekankan kemampuan teknis untuk menyerang ruang tertentu, karena itulah kunci agar kami bisa mencetak lebih banyak gol,” tambahnya.
Fokus Jelang Laga Penentuan
Dengan musim yang semakin mendekati akhir, Lecce akan menghadapi pertandingan penting melawan Verona dan Pisa. Kedua laga tersebut berpotensi menentukan nasib mereka di Serie A musim ini.
Untuk menghadapi momen krusial tersebut, manajemen tim memutuskan untuk menggelar pemusatan latihan selama dua minggu. Program ini bertujuan meningkatkan fokus, kebugaran, serta mental pemain agar siap menghadapi tekanan di akhir musim.
Dukungan dari suporter juga menjadi suntikan motivasi tambahan. Setelah pertandingan melawan Fiorentina, para pendukung memanggil pemain ke depan Curva dan memberikan dukungan penuh. Mereka juga menyuarakan harapan agar tim tampil dengan semangat “11 Singa” dalam pertandingan mendatang.
Perbaiki Konsentrasi di Menit-Menit Krusial
Analisis statistik menunjukkan Lecce kerap kebobolan di sekitar menit ke-30 pertandingan. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi Di Francesco, yang menilai masalah tersebut tidak boleh berkembang menjadi tekanan mental bagi para pemain.
Menurutnya, fokus dan konsentrasi menjadi kunci agar tim dapat menghindari kesalahan yang berujung kebobolan. Oleh karena itu, selama pemusatan latihan, seluruh aktivitas pemain akan dipantau secara ketat, mulai dari waktu istirahat hingga asupan nutrisi.
“Kami akan mengerahkan seluruh energi positif selama pemusatan latihan ini. Kami ingin mengontrol segala aspek, mulai dari waktu istirahat hingga nutrisi, agar pemain berada dalam kondisi terbaik untuk menghadapi pekan-pekan penting,” tegasnya.
Dengan hanya beberapa pertandingan tersisa, Lecce kini tidak memiliki banyak ruang untuk kesalahan. Di Francesco berharap semangat positif dan kerja keras selama pemusatan latihan dapat membantu timnya menghindari degradasi dan mempertahankan tempat mereka di Serie A musim depan.






