wartajabar.co.id, Jakarta — Sepuluh tahun telah berlalu sejak Denmark mencatatkan sejarah besar dengan menjuarai Piala Thomas, prestasi paling bergengsi yang pernah diraih tim bulu tangkis putra mereka. Menariknya, satu dekade setelah momen bersejarah tersebut, Denmark kembali menjadi sorotan karena dipercaya menjadi tuan rumah Final BWF Piala Thomas & Uber 2026, menghadirkan nostalgia sekaligus harapan baru bagi publik tuan rumah.
Tantangan Berat Sebelum Turnamen
Menjelang Piala Thomas 2016, Denmark sebenarnya datang dengan komposisi tim yang cukup solid. Mereka memiliki kekuatan merata di sektor tunggal maupun ganda, sehingga dianggap sebagai salah satu kandidat kuat. Namun, situasi berubah ketika salah satu pemain kunci mereka, Carsten Mogensen, harus absen akibat aneurisma otak yang dialaminya pada awal tahun.
Absennya Mogensen menjadi pukulan besar bagi Denmark. Pasalnya, ia bersama Mathias Boe merupakan pasangan ganda putra papan atas dunia saat itu. Kehilangan salah satu pilar utama membuat Denmark harus melakukan berbagai penyesuaian strategi.
Tidak hanya itu, Denmark juga dihadapkan pada masalah tambahan selama turnamen berlangsung. Jan O Jorgensen dan Mads Pieler Kolding mengalami cedera ringan yang memaksa tim pelatih melakukan perubahan susunan pemain. Situasi tersebut bahkan membuat Denmark harus memainkan pemain muda Emil Holst dalam laga semifinal melawan Malaysia.
Meski menghadapi berbagai kendala, para pemain Denmark mampu tampil tenang dan tidak kehilangan fokus. Ketangguhan mental mereka menjadi salah satu faktor utama keberhasilan perjalanan menuju final.
Persaingan Sengit di Fase Grup
Salah satu pertandingan paling menarik di fase grup terjadi di Grup A antara Jepang dan China. Kedua negara unggulan ini saling berhadapan untuk memperebutkan posisi puncak klasemen.
Pertandingan berlangsung sangat ketat sejak awal. Sho Sasaki memberikan perlawanan sengit kepada Chen Long, sementara pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa hampir saja mengalahkan Zhang Nan/Fu Haifeng. Meski demikian, China berhasil melewati laga-laga sulit tersebut dan akhirnya menyapu bersih kemenangan dengan skor 5-0.
Hasil tersebut ternyata berdampak besar terhadap perjalanan selanjutnya.
Kejutan di Babak Perempat Final
Kemenangan China di fase grup membuat mereka harus menghadapi Korea Selatan di babak perempat final. Namun, hasil tak terduga justru terjadi.
Son Wan Ho berhasil mengalahkan Chen Long, sementara pasangan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong menundukkan Zhang Nan/Fu Haifeng dalam pertandingan ketat. Situasi semakin sulit bagi China ketika Kim Gi Jung/Kim Sa Rang memastikan kemenangan Korea.
China pun tersingkir lebih awal untuk kedua kalinya secara beruntun di Piala Thomas. Korea Selatan kemudian muncul sebagai kandidat kuat juara, namun perjalanan mereka juga terhenti ketika menghadapi Indonesia di semifinal.
Indonesia berhasil melaju ke final setelah pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan mengalahkan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong. Kemenangan tersebut membuka peluang Indonesia merebut kembali Piala Thomas yang terakhir mereka raih pada 2002.
Strategi Cerdas Denmark
Denmark berada di Grup D bersama Chinese Taipei, Afrika Selatan, dan Selandia Baru. Mereka mampu mengalahkan Afrika Selatan dan Selandia Baru dengan relatif mudah.
Namun, pertandingan melawan Chinese Taipei berlangsung ketat. Hsu Jen Hao mengalahkan Jorgensen, sementara Wang Tzu Wei menumbangkan Hans-Kristian Vittinghus dalam laga lima gim yang dramatis. Meski demikian, Denmark tetap berhasil memenangkan pertandingan secara keseluruhan dan melaju ke babak berikutnya.
Di perempat final, Denmark menghadapi Jepang. Strategi cerdas dimainkan oleh tim pelatih Denmark. Meski Jorgensen sempat kesulitan di fase grup, ia tetap dimainkan untuk memberikan peluang kepada Vittinghus tampil sebagai penentu di pertandingan kelima.
Strategi tersebut terbukti berhasil. Setelah skor imbang 2-2, Vittinghus mengalahkan Riichi Takeshita dan membawa Denmark ke semifinal.
Semifinal Dramatis Lawan Malaysia
Semifinal melawan Malaysia menjadi ujian berat lainnya bagi Denmark. Mereka sempat tertinggal 0-2, situasi yang membuat peluang lolos tampak semakin kecil.
Namun, Vittinghus kembali menjadi penyelamat dengan mengalahkan Iskandar Zulkarnain. Pasangan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen kemudian menyamakan kedudukan setelah bangkit dari kekalahan di gim pertama melawan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.
Pertandingan pun ditentukan di laga kelima. Emil Holst yang masih muda tampil tanpa rasa gugup dan berhasil mengalahkan Chong Wei Feng dalam dua gim langsung. Denmark pun memastikan tiket ke final untuk kesembilan kalinya.
Final Dramatis Melawan Indonesia
Di partai final, Denmark menghadapi Indonesia dalam duel yang berlangsung sengit. Viktor Axelsen membuka jalan bagi Denmark, sebelum Indonesia menyamakan kedudukan.
Jan O Jorgensen kemudian membawa Denmark unggul setelah mengalahkan Anthony Ginting. Namun, Indonesia kembali menyamakan skor melalui pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi yang menundukkan Astrup/Rasmussen.
Pertandingan penentuan pun berlangsung di partai kelima. Hans-Kristian Vittinghus menghadapi Ihsan Maulana Mustofa. Dengan pengalaman yang lebih matang, Vittinghus tampil dominan dan memastikan kemenangan Denmark.
Momen Bersejarah Denmark
Kemenangan tersebut menjadi tonggak sejarah bagi Denmark. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, negara Eropa berhasil meraih Piala Thomas.
Vittinghus mengaku momen tersebut merupakan impian yang menjadi kenyataan. Ia mengungkapkan kebanggaannya bisa menjadi penentu kemenangan tim.
Pelatih tunggal Denmark, Kenneth Jonassen, juga menekankan bahwa kemenangan tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh tim. Menurutnya, keberhasilan Denmark bukan kebetulan, melainkan hasil persiapan matang, kerja sama tim, dan sedikit keberuntungan.
Satu dekade telah berlalu, namun kisah kemenangan Denmark di Piala Thomas 2016 tetap dikenang sebagai salah satu momen paling bersejarah dalam dunia bulu tangkis. Kini, saat Denmark kembali menjadi tuan rumah Piala Thomas & Uber 2026, harapan untuk mengulang kejayaan tersebut kembali muncul.






